Samurai dalam Pembantaian Banda

Lukisan yang menggambarkan pembantaian orang-orang Banda oleh para Samurai. (amboyna.org)

PULAU kecil di bawah Maluku ini memang tidak semewah Batavia. Tapi ketenarannya mampu memikat orang-orang dari belahan bumi lain untuk datang dan menguasai kekayaan alamnya yang begitu melimpah.

Dalam The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature, disebutkan sebelum VOC datang menguasai kepulauan Banda, Inggris telah lebih dahulu melakukan kontak dengan masyarakat di sana. Mengetahui adanya ladang rempah yang sangat melimpah di Banda, Belanda pun merangsak masuk. Kedua negara penjelajah itu akhirnya bersinggungan, dan melakukan cukup lama perang untuk menentukan kekuasaan pulau.

Belanda sendiri baru memasuki Kepulauan Maluku pada 1607 saat membantu penguasa Ternate mengusir pasukan Spanyol dari negerinya. Setelah itu, pada 26 Juni 1607, Belanda melakukan perjanjian dengan Kesultanan Ternate untuk mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah.

Dalam perang tersebut, masyarakat Banda yang dimotori oleh orang-orang kaya sebagai penguasa pribumi, lebih berpihak kepada Inggris.

“Orang Banda itu cukup cerdik. Mereka lebih suka berbisnis dengan orang Inggris dibandingkan dengan orang Belanda,” kata Meta Sekar Puji Astuti, saat mengisi seminar “Peran Samurai dalam Pembantaian Banda (1621) dan Maluku (1623): 400 Tahun Keterlibatan Orang Jepang di Maluku”, yang diadakan oleh Program Studi Jepang FIB UI.

Lama kelamaan, baik Belanda maupun Inggris lelah dengan perang yang mereka lakukan. Keduanya pun sepakat untuk mengakhiri konflik dalam perundingan. Hasilnya, Belanda rela memberikan New Amsterdam, Manhattan (sekarang New York), kepada Inggris demi mendapatkan pulau penghasil pala satu-satunya di dunia tersebut.

Berawal dari Dendam

Setelah mendapat hak atas kepulauan Banda, Belanda segera melakukan kontak dengan masyarakat Banda. Admiral Pieterszoon Verhoeven, pemimpin Belanda, tiba di Banda pada 1608 untuk bernegosiasi. Mereka mencoba mendekati orang-orang kaya, yang memimpin masyarakat di sana.

“Ketika mencoba bernegosiasi, orang-orang Banda ini malas bertemu dengan orang Belanda,” kata Meta

Orang-orang Banda menaruh curiga kepada Belanda saat mereka datang dengan membawa pasukan, serta persenjataan lengkap. Akhirnya orang-orang Banda ini mengelabui Belanda, dengan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sudah dipersiapkan sebagai tempat pertemuan.

Tanpa menaruh curiga, Verhoeven pun menyutujui pertemuan tersebut, karena merasa perlu mendapat kepercayaan dari orang-orang Banda seperti yang Inggris terima. Verhoeven pun ditemani oleh beberapa bawahannya.

Namun setelah sampai di tempat pertemuan, Verhoeven tidak menemukan siapapun. Ia lalu menyuruh penerjemahnya, Adriaan Ilsevier, untuk mencari penduduk Banda. Bukannya sambutan yang terima, Ilsevier malah dihadang oleh banyak orang bersenjata.

Penerjemah itu lalu menjelaskan bahwa kedatangan mereka dimaksudkan untuk melakukan negosiasi seperti yang telah dijanjikan. Ia bahkan menyebut bahwa Verhoeven datang dengan damai, sebagai buktinya mereka tidak membawa satupun tentara. Namun orang-orang Banda itu tidak mempercayai perkataan Ilsevier.

Setelah mendengar laporan dari penerjemahnya, Verhoeven sangat kecewa dan marah. Namun saat hendak pergi, orang-orang Banda itu menyerang. Sang admiral dan beberapa orang bawahannya tewas dalam serangan mendadak itu.

“Verhoeven tewas seketika dan kepalanya ditancapkan di atas tombak oleh orang-orang Banda,” tulis Willard A. Hanna, dalam The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature.

Penyerangan orang-orang Banda tidak berhenti sampai disitu. Mereka segera menyerbu tentara Belanda yang tidak siap bertempur. Hanya beberapa orang yang selamat dari penyerangan itu, salah satunya adalah juru tulis Verhoeven, Jan Pieterszoon Coen.

Jan Coen sangat marah, dan diliputi rasa ingin balas dendam yang sangat besar kepada orang-orang Banda. Ia lalu kembali ke negeri Belanda. Karirnya yang baik membuat Jan Coen dengan cepat meraih posisi gubernur jenderal Hindia Belanda.

Sebagai permulaan, Jan Coen membangun kekuatan tempurnya di Batavia. Ia menghimpun armada kapal besar sebelum bertolak ke Banda.

Samurai Dilibatkan

Bergabungnya para samurai dengan tentara VOC bermula dari kemelut yang terjadi, sekitar tahun 1600, di negerinya. Perang penentu kekuasaan Jepang, yang dikenal sebagai Perang Sekigahara, telah memecah dua kekuatan para samurai di negara tersebut.

Sebagai pihak yang menang, Tokugawa Ieyasu dan para samurai pengikutnya berhak memegang kekuasaan. Sementara mereka yang kalah menjadi ronin –samurai tak bertuan. Jumlahnya tidak main-main, ada lebih dari 1.000 samurai yang kehilangan tuannya.

Oleh karena tidak mendapat tempat di negerinya, para ronin itu mulai bekerja sebagai tentara sewaan. Lalu bagaimana para samurai itu dapat berhubungan dengan Belanda? Mengingat sebelum Restorasi Meiji, Jepang merupakan negara yang sangat tertutup terhadap bangsa asing.

Meta menjelaskan bahwa pada 1600, Jepang belum menerapkan politik isolasi di negaranya. Namun walau begitu, tidak semua bangsa dapat keluar masuk wilayah Jepang seenaknya.

“Pada waktu itu negara Eropa satu-satunya yang boleh melakukan kontak dengan Jepang adalah Belanda. Sebelumnya Portugis, tetapi mereka bermain agama sehingga orang Jepang mengusirnya keluar” kata Meta.

Belanda, yang berjanji hanya melakukan misi perdagangan, masuk ke Jepang melalui sebuah pelabuhan kecil di Hirado. Tetapi tidak lama setelah melakukan kontak di sana, Belanda memutuskan pindah ke Dejima, Nagasaki, karena merasa membutuhkan wilayah dagang yang lebih besar.

“Satu tempat administrasi khusus untuk Belanda ada di Hirado dan Dejima” lanjut Meta.

Pemerintah Belanda yang mengetahui keberadaan para ronin itu akhirnya menyewa mereka untuk kepentingan-kepentingan penaklukan mereka. Para ronin itu ditempatkan pada satu kesatuan khusus.

Dalam De archieven van de Verenigde Oosteindische Compagnie, yang disimpan oleh arsip nasional Belanda di Den Haag, pada 23 Januari 1613 Hendrik Brouwer mengirim surat resmi dari pemerintah Belanda kepada Pieter Both untuk menyewa para samurai tersebut.

Awalnya pemerintah Belanda berencana membawa sekitar 300 samurai, tetapi karena pengeluaran selama pendudukan terlampau besar, akhirnya mereka hanya dapat menyewa 68 orang samurai saja, termasuk 9 tukang kayu, 3 pandai besi, dan beberapa pekerja kecil lainnya.

Para samurai yang terpilih kemudian menandatangani sebuah kontrak dengan pemerintah Belanda. Mereka juga harus mematuhi seluruh peraturan yang dibuat. Salah satunya adalah larangan untuk bermain perempuan.

“Mereka tidak boleh berkelahi sesama mereka, tidak boleh melakukan gambling (judi), tidak boleh bermabuk-mabukan. Mereka juga harus mengikuti perintah atasannya. Kemudian tidak boleh membuat kekacauan,” terang Meta.

Awal Pembantaian

Setelah seluruh persiapan dirasa matang, pada 1621, Jan Coen akhirnya berangkat menuju Banda. Kali ini mereka sama sekali tidak berniat untuk berunding, apalagi berbaik hati kepada orang-orang Banda. Jan Coen segera memerintahkan pasukannya untuk menguasai Banda beserta isinya.

Jan Coen lalu mengumpulkan seluruh rakyat Banda di sebuah lapangan besar untuk menyaksikan eksekusi orang-orang kaya, yang dahulu hampir membunuh dirinya. Di sinilah peran para samurai itu dimulai.

Mereka dilibatkan dalam pasukan VOC sebagai eksekutor karena pemerintah Belanda tahu kemampuan berpedang para samurai itu, ditambah senjata yang mereka gunakan dapat dengan mudah memotong tulang.

Meta menjelaskan bahwa para Samurai Jepang ini mengeksekusi 8 orang kaya, dan beberapa penduduk lainnya, yang sebelumnya ditempatkan di sebuah kurungan yang sangat kecil. Orang-orang kaya itu dipenggal, dan tubuhnya dibagi menjadi empat bagian.. Kemudian kepalanya diseret di depan umum.

Tujuan dari VOC melakukan eksekusi publik itu adalah untuk memperingatkan penduduk lain yang berani berbuat macam-macam dengan pemerintah Belanda.

Menjadi Korban

Berbeda dengan di Banda, para samurai Jepang yang ada di Maluku justru menjadi korban tentara VOC. Pada 1623, para samurai yang ada di Maluku ini merupakan tentara yang disewa oleh pemerintah Inggris.

Pembantaian terhadap para samurai dan beberapa orang yang terlibat dengan pemerintah Inggris dilakukan karena Belanda curiga Inggris menyewa para samurai itu untuk memata-matai mereka.

Suatu ketika ada seorang samurai yang sedang berkeliling di dekat benteng milik pemerintah Belanda. Ia kemudian berhenti dan bertanya kepada tentara Belanda mengenai cara menjaga benteng tersebut.

Merasa curiga, tentara Belanda lalu menangkap samurai tersebut. Sejak saat itu, Belanda mulai melakukan penangkapan terhadap tentara Inggris dan samurai Jepang. Hingga akhirnya mereka dieksekusi.

Menurut data yang diperoleh dari catatan pemerintah Inggris, dalam amboyna.org, ada 10 orang Inggris dan 9 samurai yang dieksekusi oleh pemerintah Belanda.

“Meskipun orang Jepang itu jumlahnya sedikit yang terlibat dalam pembantaian Banda dan Maluku, tetapi sejarah ini menjadi sejarah yang sangat signifikan dalam sejarah dunia khusunya di kolonialisme,” kata Meta.


Artikel Asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *