Sumanto yang Tak Lagi Seram, Kini Dampingi KH Supono saat Ceramah Hingga Pernah Kerjai Menteri Agama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masih ingat sosok pria bernama Sumanto?

Dia sangat fenomenal di medio tahun 2003 lantaran kasusnya yang terbilang aneh, bahkan di luar nalar manusia.

Ya, Sumanto si Pemakan Daging Manusia. Begitu kira-kira julukan yang disematkan ke dirinya.

Namun, daging manusia yang dimakan Sumanto bukanlah dari hasil pembunuhan, melainkan dia mencuri dari salah satu makam di mana tersimpan jasad segar.

Nah, kali ini cerita Sumanto tidaklah menyeramkan. Dia telah berubah 180 derajat. Berikut kisahnya :

Pagi itu, rumah sakit Khusus Jiwa H Mustajab di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah terlihat ramai.

Diketahui, rumah sakit yang dimilik KH Supono Mustajab itu dihuni 225 orang pengidap gangguan jiwa, termasuk Sumanto

Menurut Supono, selama bulan Ramadhan Sumanto dan rekan-rekannya tidak menjalani puasa.

Namun, mereka tetap mengikuti shalat tarawih berjamaah di kompleks rumah sakit sekaligus kediaman KH Supono.

“Sumanto kadang-kadang puasa, tapi tidak wajib karena gila,” kata Supono saat ditemui di rumahnya, Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa (14/5/2019).

Jadi Partner KH Supono saat Ceramah

Selama bulan Ramadhan ini Sumanto lebih banyak beraktivitas di kompleks rumah sakit.

Menurut rencana, menjelang lebaran nanti Sumanto akan pulang menemui orang tuanya menyerahkan bingkisan.

Baca: Tak Lagi Makan Mayat, Sumanto Manusia Kanibal Kini Dampingi Pengasuhnya Ceramah ke Berbagai Kota

Sumanto saat berada di panti rehabilitasi Annur Karanganyar
Sumanto saat berada di panti rehabilitasi Annur Karanganyar (TRIBUN JATENG)

“Sudah 18 tahun di sini, sudah seperti rumahnya sendiri, karena sudah ditolak lima kali (saat akan kembali ke kampung halamannya). Katanya nanti kalau mau lebaran mau pulang mau kasih uang sama Bapak Ibu, terus kasih pakaian, dia ngomong sendiri,” kata Supono.

Sumanto kini menjadi “partner” KH Supono dalam mengisi ceramah di berbagai kota.

Meski mengalami gangguan jiwa, banyak masyarakat yang penasaran dengan tingkah konyol Sumanto yang kadang tidak terduga.

Supono mengatakan setelah lebaran akan melakukan roadshow ceramah bersama Sumanto di 24 kota, antara lain di Pemalang, Pekalongan, termasuk di antaranya di Pulau Sumatera.

“Mulai hari kedua bulan Syawal Sumanto ikut saya mengisi pengajian di 24 tempat, full tanpa henti. Sumanto jadi bintang tamunya, karena banyak yang ingin lihat orang makan orang, malah yang ingin ketemu kiainya sedikit,” kelakar Supono.

Melansir dari Kompas.com, ia tinggal di Pondok Rehabilitasi Jiwa An-Nur, Purbalingga, Jawa Tengah.

Di sana, Sumanto diasuh KH Supono Mustajab.

Sumanto pun belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Sumanto bahkan turut aktif dalam kegiatan bersama warga sekitar.

Satu di antaranya kegiatan yang baru saja dilakukan Sumanto.

Tampaknya, Sumanto mengikuti beragam perlombaan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Sumanto pun menjadi sorotan karena ikut lomba makan kerupuk.

Ia melahap kerupuk dalam keadaan tangan diikat tali.

“Lebih enak kerupuk daripada cicak,” ujar Sumanto, seperti dikutip Kompas.com.

Tidak hanya lomba makan kerupuk, Sumanto pun mengikuti lomba lainnya.

Mulai dari memasukkan paku ke dalam botol, joget balon, hingga adu panco.

Sumanto bahkan berhasil memenangkan lomba adu panco.

KH Supono Mustajab, pengasuh Sumanto sekaligus pemilik RSKJ H Mustajab, Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
KH Supono Mustajab, pengasuh Sumanto sekaligus pemilik RSKJ H Mustajab, Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. ((KOMPAS.com/FADLAN MUKHTAR))

Baca: Sumanto Si Kanibal Ikut Lomba 17 Agustus Katanya: Lebih Enak Kerupuk daripada Cicak

Ia mengaku menjadi lebih kuat karena sering mencangkul.

Hal itulah yang membuat Sumanto merasa menjadi nilai lebih bisa menundukkan dua lawan adu panconya.

Sempat ‘Kerjai’ Menteri Agama

Sebelumnya, Sumanto yang berasal dari Desa Pelumutan, Kemangkon Purbalingga itu sempat menjalani hukuman penjara karena kasus pencurian mayat.

Aksi keji Sumanto yang memakan daging mayat ini tentu membuat siapapun miris.

Baca: Ketika Sumanto si Kanibal Ikut Lomba 17 Agustusan, Pilih Kerupuk atau Cicak?

Sumanto (48) saat mengikuti lomba makan kerupuk dalam rangka menyambut HUT Ke-73 RI di lapangan Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (12/8/2018). Nama Sumanto dikenal luas lantaran kasus kanibalisme yang dilakukannya saat mencuri dan menyantap mayat Mbah Rinah pada tahun 2003 silam.(KOMPAS.com/M IQBAL FAHMI)
Sumanto (48) saat mengikuti lomba makan kerupuk dalam rangka menyambut HUT Ke-73 RI di lapangan Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (12/8/2018). Nama Sumanto dikenal luas lantaran kasus kanibalisme yang dilakukannya saat mencuri dan menyantap mayat Mbah Rinah pada tahun 2003 silam.(KOMPAS.com/M IQBAL FAHMI) (KOMPAS.com/M IQBAL FAHMI)

Bagaimana mungkin, ia bisa lahap memakan daging mayat yang diambilnya dari kuburan?

Sementara bagi masyarakat awam, Alih-alih memakan, menatap jenazah saja mereka sudah ketakutan.

Tak ayal, tindakan Sumanto yang irasional itu membuatnya sering dianggap memiliki kelainan jiwa.

Entah alasan apa yang membuat pria itu nyaman dengan tindakan sadisnya.

Rasa penasaran pun sempat muncul pada seorang Menteri Agama di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia sempat berkunjung di Panti Rehabilitasi Mental Annur, Bungkanel Karanyanganyar Purbalingga, tempat Sumanto menghabiskan sisa umurnya usai keluar dari penjara, beberapa tahun lalu.

Sang menteri tentu saja tak sendiri mendatangi Sumanto.

Ia didampingi pengasuh panti yang senantiasa merawat Sumanto hingga membuatnya jinak, Supono.

Supono memfasilitasi menteri itu agar bisa bertemu dan berinteraksi langsung dengan Sumanto. Mereka akhirnya dipertemukan hingga terlibat obrolan santai.

Di tengah obrolan ringan itu, sang menteri tiba-tiba menyeletuk. Ia melempar pertanyaan geli ke Sumanto yang ada di hadapannya.

“Pak menteri tanya, daging yang menurut Sumanto enak itu yang bagaimana,”katanya menirukan gaya omongan sang menteri dikutip dari Tribun Jateng, 2018 silam. 

Sumanto pun membalas pertanyaan sang menteri.

Menurut Sumanto, kata Supono, daging mayat orang yang banyak dosa terasa pahit baginya.

Sebaliknya, Sumanto memberikan penilaian positif untuk mayat orang baik atau saleh dalam hidupnya yang dinilainya enak untuk dimakan.

Sumanto langsung saja menunjuk menteri agama di hadapannya sebagai orang yang masuk kriteria itu.

Sang menteri sontak terhenyak, tubuhnya agak mundur, saat ditunjuk Sumanto dengan tatapan matanya yang tajam.

“Yang enak itu mayat orang yang baik seperti pak Menteri,” kata Supono menirukan jawaban Sumanto

“Yah, jangan saya Sumanto, saya kan menteri agama,” kata Supono menirukan balasan dari Menteri Agama

Belasan tahun tinggal di panti semenjak keliar dari penjara, sekitar 2006 silam, Sumanto dinilai Supono telah mengalami banyak perubahan.

Sumanto menjadi pribadi yang lebih religius dan rutin mengikuti kegiatan keagamaan baik di dalam maupun luar panti.

Ia juga sering diajak Supono saat mendapat undangan untuk berceramah di tempat pengajian di berbagai daerah.

Sumanto bahkan tak jarang 8 diberi porsi khusus untuk berceramah di hadapan masyarakat.

Oleh Supono, ia sering didaulat sebagai muazin di musala panti. Wajar saja, Sumanto memiliki warna suara yang khas, agak serak dan lantang.

Sumanto juga pandai menyanyikan tembang Jawa. Alunan kidung Jawa sering menggema dari sebuah kamar khusus yang dihuni Sumanto di dalam panti.

Nyanyian syahdu itu seakan melukiskan kesepian seorang pria bujang yang telah belasan tahun terkungkung di dalam panti.

Baca: Ingat Sumanto yang Dulunya Pemakan Daging Manusia, Kepribadiaannya Kini Bikin Haru

Setiap nada seperti letupan kerinduan dari pria yang selalu ditolak untuk pulang di tanah kelahiran sendiri.

Sumanto hanya bisa menatap wajah orang-orang yang sama telantar di dalam panti. Orang-orang yang meskipun tinggal bersama, namun saling sibuk sendiri, terasing dari dunia yang pernah memberi mereka kebahagiaan.(kompas.com/tribun jateng/wartakotalive.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *