Top 3 Berita Hari Ini: Putra Bungsu Waldjinah Meninggal Dunia Akibat Penyakit Jantung

Putra Maestro Keroncong Waldjinah Meninggal DuniaSalah satu anak almarhum sedang melihat jenazah ayahnya.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Liputan6.com, Jakarta – Top 3 berita hari ini mengungkap kepedihan mendalam yang tengah dihadapi keluarga maestro keroncong Waldjinah. Sang putra bungsu tutup usia pada usia 53 tahun karena penyakit jantung yang telah lama di derita.

Meninggalnya putra bungsu dari lima bersaudara itu membuat Waldjinah sempat syok. Namun, keluarga terus menguatkan si pelantun Walang Kekek ini atas kepergian putra tercinta.

Bicara soal Nahdlatul Ulama (NU), tahukah Anda siapa sosok kiai pertama yang mendirikan NU di Indonesia? Meski namanya tak sebesar Gus Dur, Mbah Ma’shum bin Syamsuddin menjadi salah satu tokoh penting seiring perkembangan NU hingga saat ini.

Lewat tangan ulama besar kelahiran Desa Tinatah, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang ini, cabang NU pertama di Indonesia berdiri di Kabupaten Blora, pada 1927.

Sementara itu, dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, sebuah ide bisnis tercipta dari kebiasaan nongkrong sambil nyeruput kopi. Dengan modal yang cukup, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, membangun kedai sederhana dan menamainya Kandang Kopi.

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini: 

1. Putra Bungsu Maestro Keroncong Waldjinah Meninggal Dunia

Waldjinah tampak sedih dengan meninggalnya putra bungsu kesayagannya.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Air mata maestro keroncong Waldjinah terus mengalir. Dia menangisi kepergian putra bungsunya, Bintang Nur Cahya (53) yang meninggal dunia di RS Kasih Ibu Solo, Jumat (5/7/2019).

Bintang seolah menjadi putra yang istimewa karena namanya itu merupakan pemberian dari Presiden Sukarno.

Menurut salah satu putra Waldjinah, Ari Mulyono, adiknya tersebut meninggal karena penyakit jantung yang telah lama dideritanya. Berdasarkan riwayat kesehatan, Bintang mulai menderita sakit jantung sejak tahun 2008 silam.

Selengkapnya… 

2. Menelusuri Jejak Mbah Ma’shum, Pendiri Cabang Pertama NU di Indonesia

Makam Mbah Ma’shum, ulama besar NU kelahiran Desa Tinatah, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. (Liputan6.com/ Ahmad Adirin)

Dibanding Gus Dur, Mbah Ma’shum bin Syamsuddin mungkin tidak begitu familiar di masyarakat luas. Namun Mbah Ma’shum bukan orang sembarangan, dia merupakan sosok kiai pertama yang mendirikan cabang Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia.

Mbah Ma’shum merupakan ulama besar kelahiran Desa Tinatah, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Dirinya wafat pada 1947 dan dimakamkan di Kidangan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Syaerozi (60), suami dari cucu Mbah Ma’shum kepada Liputan6.com menceritakan, cabang NU pertama di Indonesia ada di Kabupaten Blora, berdiri pada 1927, tepatnya setahun setelah NU berdiri di Surabaya pada 31 Januari 1926.

Selengkapnya… 

3. Jangan Ada Kopi Renteng di Antara Kita

Kedai Kandang Kopi di malam hari. (Liputan6.com/Musthofa Aldo)

Menyeruput kopi, aktivitas yang jamak dianggap mubazir dan buang-buang waktu, serta identik dengan pengangguran. Meski demikian, lewat tangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, stigma tersebut perlahan dihilangkan dengan menjadikannya sebuah ide bisnis yang sangat menjanjikan.

Awalnya, Saini Sukijan membuat kedai kopi karena dirinya kesulitan menemukan tempat nongkrong begitu pulang kampung ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, setelah empat tahun merantau ke Kota Kupang, NTT, pada 2015.

Bermodal pinjaman emas milik saudara dan keluarga, Saini membangun kedai sederhana dan menamainya Kandang Kopi karena seluruh bangunan berbahan bambu dan beratap rumbia–mirip kandang sapi.

Selengkapnya…

Saksikan video pilihan di bawah ini:


Artikel Asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *